Alumni Plasma 4 Surakarta Belajar Arung Jeram
di Sungai Serayu, Wonosobo - Banjarnegara
Menindaklanjuti kegiatan reuni SMA 4 Surakarta yang diadakan beberapa waktu lalu, sebagian panitia reuni yang merupakan alumni Plasma 4 (Pecinta Alam SMAN 4 Surakarta) melakukan pengarungan sungai Serayu pada tanggal 3 November 2007.
Dalam kegiatan ini, tim pengarungan alumni Plasma 4 terdiri dari tujuh orang, yaitu Adi92, Adit98, Malik98, Pandu2000, Ian99, Agus99 dan Sony98. Kecuali, Ian dan Pandu yang merupakan rekan bermain Malik, semua nama yang disebutkan di atas merupakan alumni SMA 4 Surakarta yang aktif dalam berkegiatan pecinta alam.
Dalam pengarungan ini, kami juga dibantu rekan-rekan dari Palapsi UGM. Mereka bertindak sebagai safety rescuer, mengingat tim rafting dari alumni Plasma 4 hampir semuanya belum pernah mendayung sebelumnya –masih dalam taraf belajar. Rafting adalah olahraga beresiko, maka faktor keamanan perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Palapsi UGM memang sudah lama menekuni kegiatan ini dengan melakukan ekspedisi ke seluruh wilayah Nusantara bahkan juga keluar negeri. Dengan motornya Lukman Sabani, alumni SMA 4 Solo tahun 2004, mereka membantu alumni Plasma 4 untuk melakukan pengarungan di sungai Serayu.
Selain kami yang turun dengan perahu rafting, rekan-rekan Palapsi juga turun dengan perahu rafting dan kayaknya, sehingga ada dua perahu rafting dan satu kayak yang kami turunkan dalam kegiatan ini. Berbeda dengan rafting yang merupakan permainan kelompok, bermain dengan perahu kayak adalah bermain dengan skill perseorangan. Resiko yang dihadapi pun lebih besar. Perahu biasanya mudah goyah, akibatnya perahu bisa terbalik. Untuk mengantisipasi perahu terbalik, dalam hal ini dibutuhkan kemampuan eskimo roll, yaitu membalikkan perahu ke kondisi semula. Caranya adalah dengan melentingkan tubuh ke belakang.
Dalam pengarungan sungai Serayu ini, kami mempunyai tujuan untuk mengenalkan olahraga arus deras yaitu kayaking dan rafting, khususnya kepada aktifis Plasma 4 Surakarta, dan juga mengenalkan kepada warga pecinta alam di Surakarta secara luas. Dalam perkembangan olahraga arus deras, kota Solo memang tertinggal dibandingkan kota-kota di Jawa Tengah lain seperti Semarang, Magelang, dan Purwokerto. Padahal di kota tetangganya, Yogyakarta, yang jarak tempuhnya hanya satu jam perjalanan, olahraga ini sudah dikenal sejak tahun tujuh puluhan.
Memang, kota Solo pernah mengadakan suatu kegiatan olahraga dayung di bengawan Solo pada era 80-an, Namun, sayangnya event tersebut berhenti dan tidak pernah dibangkitkan lagi. Kondisi bengawan Solo yang sudah tercemar, bisa jadi tidak memungkinkan untuk dikembangkan sebagai tempat lokasi wisata air yang menarik. Namun, beberapa sungai dari arah gunung Lawu kemungkinan ada yang layak dikembangkan sebagai tempat wisata sungai. Tentunya perlu disurvei dan dikaji lebih lanjut.
Sebagai tempat start, entry point kami lakukan dari sungai Begaluh, desa Belimbing Wonosobo. Jam saya menunjuk pukul delapan ketika kami melakukan peregangan sendi-sendi otot kami untuk persiapan pengarungan. Debet air sungai juga berada dalam kondisi normal saat kami mau menuruni sungai. Dan, hujan pun mengiringi kami ketika kami akan masuk ke dalam perahu. Jeram pertama yang terdiri dari standing wave mengucapkan selamat datang pada kami. Beberapa holes yang biasanya terlihat bila debet air turun, sekarang sudah tidak terlihat lagi. Kondisi demikian tentunya lebih mengasyikkan kami untuk bermain, sehingga waves-nya pun terasa menerpa wajah-wajah kami yang berteriak kegirangan ketika memasuki jeram-jeram di sungai Serayu.
Keadaan sungai bagian atas sungai Serayu ini mempunyai karakteristik jeram patahan, dimana hal tersebut terjadi karena adanya patahan sungai dan batu-batu yang berserakan tak menentu. Sesekali kami melakukan scouting, yaitu orientasi medan yang akan kami lalui lewat darat, mengingat medan sungai Serayu cenderung berubah dari waktu ke waktu akibat adanya sedimentasi, banjir dan lain-lain. Kami juga melakukan on sight paddling, yaitu melakukan orientasi medan dengan berdiri di perahu agar dapat melihat medan jeram dari kejauhan. Dua teknik tersebut kami padukan agar waktu yang akan kami tempuh bisa lebih singkat, menimbang bahwa jauh pengarungan kami adalah sejauh 25 km dari desa Belimbing Wonosobo hingga desa Singomerto, Banjarnegara, tentunya tidak akan sampai di finish point tepat waktu bila di setiap jeram kami melakukan scouting.
Di tengah jalan kami menemui desa Tunggoro. Desa ini masíh masuk ke dalam wilayah Wonosobo. Jeram-jeram yang ada di daerah ini cukup menantang, sekitar level III+. Kondisi jeram biasanya diakhiri dengan turunan yang tajam, dan arus utama langsung menghantam ke tebing. Kondisi ini biasanya berbahaya bagi perahu. Bila kita tidak cukup sigap dengan bentukan sungai semacam itu, maka perahu bisa menempel di tebing dan terjebak di situ. Awak perahu bisa terlempar keluar dalam arus yang deras, atau bahkan terjebak dalam bentukan undercut yang terjadi akibat arus yang membentur tebing sungai untuk sekian lama.
Alhamdulillah, tim alumni Plasma 4 dengan skiper Adi (alumni SMA 4 angkatan 92), dimana beliau sudah berpengalaman menuruni sungai Serayu, cukup sigap akan apa yang harus diantisipasi sehingga perahu berjalan mulus menití jeram yang dilalui. Apalagi standing wave yang lumayan tinggi di jeram-jeram desa Tunggoro, membuat pendayung depan Adit dan Agus diterpa oleh air yang memecah dari bibir perahu menuju ke wajah mereka. Teriakan-teriakan gembira mewarnai aksi-aksi kami dalam menelusuri jeram-jeram tersebut.
Perahu kayak yang dikendalikan oleh Fredy Andreas (Psikologi UGM angkatan 2004) juga cukup lincah berliuk-liuk mengarungi jeram sungai Serayu. Sesekali memang perahu kayak yang dikendalikan Fredy Andreas terbalik dalam jeram, namun ia bisa antisipasi dengan melakukan eskimo roll sehingga perahu bisa berbalik ke kondisi awal, dan melanjutkan perjalanan kembali. Bermain perahu kayak memang susah, akan tetapi cukup menantang. Sony, yang mantan penggiat Plasma 4 merasa tertarik dengan aksi-aksi yang dipertunjukkan oleh Fredy Andreas sehingga merasa ingin mencobanya. Tapi, tentu saja hal tersebut tidak kami perbolehkan, karena langsung mencoba di Serayu resikonya termasuk besar. Ada tahap-tahap pembelajaran yang harus dilalui agar bisa bermain kayak di sungai Serayu.
Selepas desa Tunggoro, akhirnya kami sampai di desa Sigaluh. Jeram disini tidak kalah dashyatnya. Sempat Agus akan terlempar keluar perahu, terhanyut dalam arus deras membentur bibir tebing. Untunglah, Malik yang berada didekatnya bisa langsung memegang pelampungnya. Saya yang berposisi dibelakangpun membantu menariknya ke atas agar bisa masuk ke dalam perahu lagi. Agus yang ditarik masuk ke dalam perahu, wajahnya menjadi merah padam ketika memandang jeram yang akan memakannya tersebut.
Olahraga arus deras memanglah beresiko tinggi, sehingga tak ayal kita menemui banyak cerita tentang kecelakaan berarung jeram yang merengut banyak nyawa. Dalam kaidah psikologi, dalam kegiatan pecinta alam ini kita harus bisa memadukan apa yang disebut dengan subjective danger dan objective danger. Subjective danger adalah bahaya yang diakibatkan oleh pelakunya. Bahaya dimaksudkan disini karena pelakunya belum mahir dalam berarung jeram, suka teledor dan semua hal yang bersumber pada subyek tersebut. Objective danger disebabkan karena faktor alam memang berbahaya untuk diarungi, misalnya saja jeram-jeram tingkat lima dan enam. Kerap kali bahaya akan terjadi bisa kita tidak bisa mengukur dan memadukan subjective danger dan objective danger tersebut.
Berbeda dengan karakterisitik sungai di bagian atas, jeram antara Tunggoro – Sigaluh lebih banyak standing wave-nya, dan berbatu-batu. Malahan, sesekali kami kesulitan untuk mencari jalur yang tepat untuk dilewati agar perahu yang kami bawa bisa melewati jeram secara mulus, tidak terjebak diantara batu-batuan yang berserakan tak karuan tersebut.
Waktu menunjukkan pukul empat ketika kami mendapati jembatan Singomerto sudah terlihat dari pandangan kami. Itu akhirnya, akan selesai sudah pengarungan yang kami lakukan. Dan, hujan belum saja reda ketika kaki kami mendarat di bawah jembatan. Alhamdulillah, akhirnya pengarungan ini kami selesaikan dengan selamat. Rasa deg-degan sepanjang pengarungan, perasaan tertantang, rasa capek dan lelah, rasa gembira ketika air menerpa wajah kami, semuanya bercampur jadi satu sebagai pengalaman berharga yang bisa kami ajarkan kepada adik-adik kelas kami di Plasma 4 dan pecinta alam lain agar mau menekuni kegiatan ini di kota Surakarta.
Penulis : Adi Mardianto.
Aktifis olahraga arus deras. Lulusan Psikologi UGM. Tinggal di Surakarta.
Kamis, 05 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar